E-mail: alumni.isbi.bandung@gmail.com | Call: : +62 7314982 | Location : ISBI Bandung  

Artikel

REPRESENTASI INTERPRETASI TRADISI NUSANTARA DALAM RUPA DAN MEDIUM Oleh: Agus Cahyana, Zaenudin Ramli

Peneliti sejarah seni Indonesia Wiyoso Yudoseputro (2005), telah menulis berkaitan penyebab lambatnya pengetahuan dan penelitian tradisi seni di Indonesia. Pertama, penyebab lambatnya tersebut ialah  pengetahuan seni masa prasejarah sebagai landasan dasar transformasi seni Indonesia yang bertahan di daerah-daerah pedalaman, dan daerah terasing relatif belum dijadikan penelitian sekaligus penelaahan para ilmuwan dan sejarawan asing pada masa pemerintah kolonial Belanda.  Sebab kedua, ialah berbagai karya tulis yang dipublikasikan dalam buku-buku dan majalah ilmiah dari lembaga pengetahuan, budaya, bahasa, dan seni dari Kerajaan Belanda dan museum seperti: museum voor Volkenkunde, Tropen Museum di Amsterdam dan Rotterdammasih sangat terbatas.Padahal lembaga tersebut merupakan pusat kajian berbagai lingkup budaya Indonesia yang sangat penting peranannya sebagai pendorong lahirnya historiografi Indonesia lama.Sebab yang ketiga, ialah soal terbatasnya kajian materi pada bidang sosial budaya dengan pendekatan sejarah yang jarang menyinggung kajian-kajian seni sebagai disiplin ilmu sesuai dengan pandangan budaya masa kini.Bahasan seni rupa prasejarah Indonesia dan seni rupa etnik Indonesia pada masa kolonial masih terbatas pada bingkai sejarah budaya tradisional yang belum mengemukakan wacana seni rupa masa kini.
Dalam pandangan Wiyoso, setelah era-kolonial dilalui maka konsep kebudayaan tradisional Indonesia dari masa lampau baru menjadi bahan kajian ilmiah.Wiyoso juga menambahkan jika kajian terhadap seni rupa masa lampau dilakukan dengan pendekatan paradigma baru.Paradigma baru berkaitan dengan arti seni tradisional Indonesia yang membukakan pandangan sikap, dan sikap budaya baru terhadap kemungkinan reinterpretasi dan redefinisi berbagai ekspresi seni rupa Indonesia lama.
Di tahun 1985, salah seorang kritikus seni Indonesia yakni Kusnadi menulis yang termuat dalam Koran Kompas, dengan judul: “Seni Rupa Asia Sudah Gali Tradisi”, pandangan Kusnadi tersebut didasarkan pada sebuah pameran yang berlangsung di Museum Fukuoka Jepang, yang berlangsung pada tanggal 1 November s/d 1 Desember 1985. Hasrat dari konsep pameran yang diikuti oleh 13 negara Asia tersebut, termasuk Indonesia ialah ingin menonjolkan rasa atau corak ketimuran karya seni rupa Asia masa kini.Meskipun dalam kenyataannya permintaan tentang corak itu belum ditepati oleh sebagian peserta.Akibatnya pameran tersebut terasa memberi citra seni rupa modern yang lebih umum.Kusnadi menilai bahwa karya-karya pada pameran tersebut masih berkiblat atau sekurang-kurangnya masih bersinggungan dengan pengaruh seni rupa modern Barat.Bagi Kusnadi, bahwa seni modern Asia dapat disimpulkan sebagai bentuk seni yang lahir bersama atau menjelang kemerdekaan bangsa-bangsa Asia. Yaitu, masa sesudah mereka mengalami masa penjajahan sebagai usaha melahirkan bentuk ungkapan baru budaya bangsa-bangsa Asia merdeka.Kenyataannya soal pengaruh barat terhadap seni rupa Indonesia, memang tidak bisa dihindari.
Lalu, bagaimana menampilkan corak atau citra Indonesia dalam praktek seni rupa kita?Adakah seni rupa Indonesiawi?
Pertanyaan di atas tersebut terasa klise, ketika pertanyaan tersebut sudah digugat oleh pelukis dan pengamat seni Oesman Effendi yang menyatakan bahwa seni rupa kita belum ada. Namun pernyataan Oesman tersebut disanggah oleh pengamat seni Sudarso Sp pada Saresehan Seni Rupa 1985 di Surakarta: “Situasi Seni Rupa Kita dan Seni Rupa Terlibat”, yang berpendapat bahwa para pelukis dan seniman yang hidup dan dilingkupi oleh kultur Indonesia dengan sendirinya akan melukiskan Indonesia, jika tidak pasti ada yang tidak beres pada pemahaman kultural dari pelukis tersebut. Bagi Sudarso Sp, para pelukis Indonesia sudah lama merintis usaha-usaha untuk menggali khazanah budaya Indonesia. Hasilnya dapat kita lihat sekarang, lukisan dengan ungkapan visual dengan relief candi, wayang, topeng-topeng, patung-patung primitif, dan sebagainya. Sudarso Sp juga menambahkan agar pelukis dan seniman Indonesia mesti kembali kepada khazanah tradisi Indonesia. Namun sebaliknya Sudarso Sp juga memberikan catatan banyak yang pada akhirnya para pelukis dan seniman Indonesia hanya sampai pemindahan unsur-unsur tradisi itu secara wadag, sementara roh tradisi itu tak terungkapkan.Apalagi jika unsur tradisi itu akhirnya hanya untuk menghadirkan lukisan agar lebih eksotis.Tradisi juga akhirnya jatuh sebagai barang komoditi dekorasi.
Kenyataan yang tidak bisa ditampik jika pada prakteknya seniman modern yang hidup dalam dunia modern, agak kesulitan untuk memposisikan diri dengan konsep tradisi yang menggali khazanah kebudayaan Indonesia lama. Hal itu dijelaskan oleh Umar Kayam (1978) yang terbit di harian Kompas, dengan tulisannya berjudul: “Kedudukan Seni Modern Sering Agak Repot”, diantara faktor penyebab itu antara lain. Pertama, masalah keakraban dengan media yang digunakan.Dalam media komunikasi tradisional (tembang, wayang, dan lain-lain) tokoh-tokohnya sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sementara dalam dunia modern justru kenyataannya sebaliknya.Kedua, adalah tradisi kesenimanan di negeri ini. Dalam tradisi yang agraris dan feodal, kedudukan seniman dalam kerajaan sama dengan “kawulo”, dengan demikian seniman selalu dalam keadaan terbingkai. Ketika demokrasi sebagai barang impor diperkenalkan, bingkai-bingkai baru muncul.Untuk menjawab usaha-usaha apa saja yang dibutuhkan seniman agar citra Indonesia itu muncul, maka Umar Khayam memberikan jawaban tegas yakni dengan cara biarkan seniman beradu dalam nilai-nilai yang berada dalam masyarakat.
Pencarian akan historiografi seni apa yang kita butuhkan? Kita tahu sampai paruh pertama pada abad ke-20, para sejarawan yang beranggapan bahwa penelusuran sejarah hampir tidak mungkin kalau tidak menyertakan bukti-bukti otentik seperti tulisan, dokumen, foto, data, atau catatan-catatan tertulis. Dengan pandangan semacam itu tercipta garis pemisah antara prasejarah dan sejarah.Sehingga sejarah lisan tidak termasuk dalam hitungan sejarah, bahkan masyarakat-masyarakat yang tidak punya tulisan dianggap tidak punya sejarah.Pendekatan mazhab sejarah lainnya menyatakan bahwa sejarah merupakan liputan tindakan-tindakan serta keputusan-keputusan manusia yang dilakukan dengan kesadaran, sehingga sukarlah memasukkan unsur-unsur dunia bawah-sadar dan proses-proses tak tercatatkan dari manusia ke dalam apa yang disebut sejarah. Lantaran tugas sejarah dianggap menuturkan secara naratif keputusan-keputusan dan perbuatan-perbuatan dari orang-orang terkemuka.
Pada perkembangan selanjutnya penulisan sejarah dilakukan semakin kompleks dan professional, terutama setelah munculnya tradisi baru kesejarahan pada paruh abad ke-19 terutama setelah dikembangkannya metoda pengujian kritis atas sejarah naratif dan atas artefak-artefak yang dapat dipakai sebagai sumber sejarah. Dibutuhkan sumber-sumber primer yang harus dibuktikan dulu kredibilitasnya.Baru di awal abad ke-20 para sejarawan mulai mengupayakan satu integrasi yang lebih dekat antara sejarah dan ilmu-limu pengetahuan sosial modern, maka jadilah sejarah sebagai salah satu cabang ilmu sosial.Namun baru setelah berakhirnya Perang Dunia II bermunculan terobosan-terobosan baru memperkaya metoda ilmiah ilmu sejarah. Seperti apa yang dipopulerkan pendekatannya oleh: Lucian Febvre, Marc Bloch dan Braudel, mulai menyodorkan pendekatan metodologis yang tidak lagi hanya fokus pada persoalan politik dan pada permasalahannya.
Untuk dunia seni Indonesia, kiranya kita tidak harus terpaku kepada pencarian mana historiografi yang paling tepat. Setiap historiografi punya daya serap masing-masing dan akan menangkap fenomenon sesuai bingkainya. Yang tak kalah penting adalah sikap keterbukaan untuk menguji dan menganalisis sumber-sumber yang ada dari visual, oral, verbal dan dari apa-apa yang secara simbolis dibawa oleh bahasa dan budaya di mana si seniman atau kelompok seniman hidup.
Dalam pandangan M. Dwi Marianto (1996), bahwa historiografi seni yang kita butuhkan adalah historiografi yang punya integritas dalam mengakomodasi bahasa sehari-hari, yang mampu menjaring bahasa-bahasa serta idiom-idiom seni yang terus berjalan berubah karena sifat reflektifnya untuk zaman yang dilaluinya. Sebab bahasa yang berlaku sehari-hari adalah bejana sekaligus wahana yang mewadahi makna-makna zaman, dan yang punya bentuk-bentuk kiasan yang paling tepat guna menyatakan dirinya sendiri baik secara verbal atau visual dalam rangka membentuk wacananya sendiri.
Bagaiamanapun kita sadar, bahwa kondisi saat ini kita hidup dalam perubahan era-globalisasi, yang secara konkret memperbaharui dan mengubah cara kita mengenang perjalanan sang waktu sekaligus menimbang keberadaan ruang eksistensi kita. Begitu pula berkaitan dengan pemikiran pencarian khazanah tradisi budaya lama atau seni tradisi Indonesia.Dalam istilah David Harvey disebut sebagai gejala “pemampatan ruang-waktu” (time-space compression), dimana menawarkan pada kita berbagai cara perumusan baru mengenai makna ruang ke-ada-an kita, eksistensi diri, termasuk soal makna “tradisi”, “kebebasan”, dan “kemandirian” di tengah berbagai tantangan perubahan.Bahkan meleburnya berbagai sekat keyakinan, definisi, maupun persepsi yang telah terbangun secara tradisional.Kritikus dan sejarawan seni Sanento Yuliman membayangkan ihwal nilai kebaruan itu sebagai situasi yang “berhutang” pada situasi di masa lalu demi perkara proyeksi gambaran masa depan.Tulisnya: “(s)eandainya kita harus hidup dalam lingkungan yang segala-galanya baru dan asing, kita (ibaratnya kaum transmigran) akan menghadapi resiko kekacauan orientasi dan kehilangan gambaran diri. Dan apakah “diri” kita, kalau bukan sebuah gambaran yang kita gubah dari unsur-unsur masa lampau, masa kini, dan masa depan, yang kita ingini agar lingkungan kita mencerminkannya?”
Lalu, apa sesungguhnya konsep tradisi?, menurut pandangan Jonathan Harris (2006) istilah tradisi mempunyai dua pengertian yang pada konteksnya sangat terkait erat dengan sejarah seni. Pertama, tradisi dimaknai sebagai kurun waktu jangka panjang, digunakan dalam hal kondisi praktis seni yang telah berlangsung atau perkembangan praktek seni selama periode waktu yang panjang (misalnya; tradisi lukisan potret, tradisi renaissance).Kedua, tradisi dimaknai sebagai rasa nilai yang menyiratkan atau yang dinyatakan secara langsung, penilaian yang sangat positif tentang makna dan nilai praktek tertentu.Dengan pengertian tradisi tersebut kita berpendapat bahwa hakikatnya tradisi merupakan suatu praktek kondisi yang terus dan bahkan mungkin bisa mengembangkan dan mengubah praktik seni. Kasus ini, sebenarnya memiliki beberapa fitur yang sama dengan pengertian hibriditas, pengertian yang terkait dengan teori postmodern: yakni pencampuran dan antar elemen medium. Istilah ini sudah menjadi mapan diterapkan seni kontemporer pada 1980-an, yang mengacu berbagai media yang berbeda. Terjadi pada proses di instalasi karya seni dan proses pengerjaan karya seni, sebuah proses yang “merusak” perbedaan tradisional antara, misalnya, lukisan, fotografi, dan patung.

Tantangan konsep tradisi ini berlaku bagi pengejawantahan dalam pendidikan seni di kita.Lalu bagaimana kita bersikap?Suatu kali dalam peristiwa pidato Dies Natalis  di sebuah lembaga kesenian di Jakarta, budayawan Umar Khayam menguraikan pandangannya secara reflektif, saat pendidikan formal kesenian di negeri kita sekarang yang masih mengambil sistem pendidikan formal layaknya di bidang ilmu pengetahuan umum sebagai modal. Permasalahan pendidikan formal kita pada umumnya, perjalanan serta kondisi sosio-historis dari kesenian kita sebagai gambaran kesenian yang berjalan tidak selalu mulus justru karena dinamika dialektika dari perkembangan sistem sosial dan budaya kita, mungkin kita dapat berhenti sejenak untuk merefleksi apakah pemilihan sistim pendidikan formal ilmu pengetahuan itu sudah merupakan pilihan model yang tepat? Pendidikan formal umum yang masih sarat dicekam oleh pendekatan praate kennis, kesiagaan pengetahuan, yang mekanistis, kurang merangsang pemikiran mandiri kreatif.

Umar Khayam melanjutkan: “mungkin sudah waktunya, sambil kita berjalan menuju kepada kemantapan sistem pendidikan formal kesenian, kita mencoba mengembangkan suatu pendidikan formal kesenian dengan pendekatan workshop besar yang didampingi dengan metode penelitian ilmu sosial dan ilmu humaniora yang canggih. Maksud pendekatan workshop dengan penelitian ketat ini adalah sekaligus untuk memberikan kepada mahasiswa maupun staf pengajar pengalaman serta pemahaman artistik dan teknis berbagai ungkapan kesenian sekarang. Dengan demikian, diharapkan akan dapat dirunut dan dilacak serta, tekstur perjalanan kesenian kita di masa lampau hingga sekarang. Kemudian dengan penemuan-penemuan penelitian tersebut kita mencoba dalam workshop-workshop tersebut antisipasi, tidak hanya ke depan tetapi juga ke belakang ke “tradisi” yang sebenar-benar tradisi.”

Pameran seni rupa Dies Natalis ISBI 2016 ini, menawarkan proyeksi dari program kuliah unggulan di jurusan Seni Rupa Murni ISBI, yang secara umum menggunakan konsep “tradisi”, atau “tradisonal” sebagai pendekatan. Karya-karya yang ditampilkam adalah proses karya mahasiswa seni lukis dan seni patung. Ambil contoh karya mahasiswa  Putri Lestari yang mengangkat kisah wayang Arjuna, kita tahu Arjuna adalah sosok protoganis dalam kisah perang heroik Bharatayudha yang membela Pandawa Lima. Namun sebaliknya pengalaman Putri membaca dan menghayati Arjuna justru sebaliknya ia mendekati Arjuna dengan isu seksualitas yakni Arjuna adalah sosok yang memiliki dan mendapatkan istri banyak, dengan ketampanan dan kegagahannya.Refleksi tersebut tertuang dalam karyanya yang menggambarkan lingkaran-lingkaran mirip cincin-cincin mewakili ihwal citra yang feminim. Karya lain juga tampil pada karya Gina Novia yang secara konsep menggambarkan perumpamaan Lingga dan Yoni dengan material batu berbentuk setengah lingkaran. Karya Rizki Anugraha berjudul “Nyiram”, ukuran 60x60 cm media keramik mencoba mengangkat konsep Pamali, secara sederhana konsep Pamali merupakan konsep nilai abstrak yang berisi pantangan dan larangan dalam kehidupan adat-istiadat Sunda. Usaha-usaha modifikasi,menelusuri, menggali atas khazanah kesenian dan kebudayaan lama Indonesia tercermin dalam karya-karya mahasiswa di atas.Tentu bukannya tanpa kelemahan disana-sini baik dalam perkara keakraban medium dan pendekatan teknik yang digunakan. Namun sekurang-kurangnya hal itu menandakan bahwa citra ekspresi atas tradisi seni Indonesia masih dalam proses yang berlangsung.

Pada karya seni lukis, karya Rizki Maulana menampilkan cara khas melukis Wayang Beber, yang sekilas seperti karya lukisan kaca Cirebon. Hal ini berkaitan dengan penerapan konsep tradisi pada karya mahasiswa seni lukis di semester VI, dimana mereka diharuskan untuk menampilkan budaya tradisi rupa, baik dari segi tema, material, maupun bahasa rupa. Pada karya Rizky Maulana, pendekatan bahasa rupa tradisi Indonesia, dihadirkan melalui penggambaran konsep Ruang Waktu Datar. Konsep Ruang Waktu Datar (RWD) selama ini dikemukakan oleh Prof. Primadi Tabrani, untuk menyatakan kekuatan bahasa rupa tradisi yang mempunyai unsur naratif yang kuat, sehingga berpengaruh pada cara perupaan yang lebih banyak unsur pendataran, aneka tampak, dan distorsi, hal ini dilakukan untuk semakin memperkuat unsur bercerita. Penggambaran obyek yang meniru penggambaran wayang kulit menjadi ciri khas dari seni tradisi, sedangkan motif mega mendung dan wadasan yang berasal dari lukis kaca Cirebon memperkuat kesan tradisional pada karya tersebut.Namun, dari segi tema, Rizki Maulana tidak mengacu pada cerita pewayangan, melainkan pada cerita keseharian masyarakat petani.Dengan tema yang berbeda tetapi kaya muatan naratif khas penggambaran RWD tradisi Nusantara, diharapkan mampu menampilkan kembali ciri khas rupa Nusantara di ISBI Bandung.

 
Gambar 1
Karya Rizky Maulana

Kurikulum unggulan prodi yang mengacu pada karya seni rupa tradisi sebagai landasan berkarya diterapkan secara bertahap, pada tahap awal, untuk mahasiswa seni lukis diharuskan meniru lukisan tradisional Nusantara, seperti lukisan pada wayang beber, lukisan kaca Cirebon, gaya penggabaran di relief candi, dan lukisan wayang gaya Kamasan Bali. Pada karya selanjutnya mahasiswa dapat memilih unsur-unsur yang akan ditampilkan di karyanya sesuai dengan konsep perupaan masing-masing, dengan demikian ciri khas pribadi seniman dapat tetap hadir walaupun dengan memanfaatkan unsur rupa tradisi sebagai identitas budaya.

Berbeda dengan karya seni lukis, identitas budaya rupa tradisi yang dihadirkan pada karya seni patung lebih ditekankan pada unsur material yaitu tanah liat (stoneware) yang menghasilkan keramik bakaran rendah atau lebih dikenal dengan sebutan gerabah.Keramik gerabah menjadi ciri khas material lokal karena sampai saat ini masih dibuat dan dipergunakan untuk keperluan ritual budaya maupun keagamaan, seperti pada masyarakat Sunda.Kekhasan ini yang dimanfaatkan untuk menghadirkan identitas budaya yang sesuai dengan karakter ISBI Bandung secara umum, walaupun ditampilkan dengan tema-tema yang beragam sesuai dengan keinginan mahasiswa.Hal ini diharapkan dapat meningkatkan kompetensi mahasiswa dalam menghadirkan budaya rupa tradisi ke dalam seni rupa kontemporer saat ini, yang sangat menjujung tinggi nilai lokalitas sebagai identitas dalam konteks dunia seni rupa yang semakin mengglobal.